Jumat, 13 September 2013

PEMBELAJARAN BERBASIS WEB (PBW)


PEMBELAJARAN BERBASIS WEB (PBW)

Perkembangan teknologi informasi dan penerapannya dalam pendidikan menjadi wacana yang berkembang saat ini. Integrasi teknologi informasi kedalam pendidikan salah satunya dalam bentuk pembelajaran berbasis web (PBW). Terdapat berbagai keunggulan penerapan PBW disamping beberapa catatan kelemahannya bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Dalam studi awal penerapan PBW diperoleh beberapa catatan penting, anatara lain bahwa kesiapan siswa untuk menggunakan komputer dan aplikasinya perlu mendapat perhatian. Dalam penerapan PBW yang telah dilakukan, siswa memperoleh manfaat antara lain bahwa PBW yang menyajikan simulasi dapat lebih membantu dalam memahami fenomena yang dipelajari (43%), disamping itu bagi siswa melalui PBW dapat belajar komputer dan mengenal pemanfaatannya dalam pembelajaran (36%), dan sejumlah siswa mengalami bahwa PBW merupakan sesuatu hal yang penting karena berguna bagi siswa yang juga sebagai calon guru (12%).
Elearning berbasis web merupakan media pembelajaran menggunakan perangkat elektronik berbasis website. Dengan media ini, materi pelajaran dapat dimasukkan kedalam suatu sistem website yang bisa diakses oleh siswa. Proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan menggunakan media ini dapat berupa diskusi, kuis, chatting, ulangan harian bahkan ulangan semester sekolah.

Tujuan pengguanaan elearning berbasis antara lain adalah:
1.      Memudahkan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.
2.      Mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran.
3.      Meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar

Bahan ajar berbasis web
Sebagaimana sebutannya, bahan ajar berbasis web adalah bahan ajar yang disiapkan, dijalankan, dan dimanfaatkan dengan media web. Bahan ajar sering juga disebut bahan ajar berbasis internet atau bahan ajar on line. Terdapat tiga karakteristik utama yang merupakan potensi besar bahan ajar berbasis web, yakni;
  • menyajikan multimedia
  • menyimpan, mengolah, dan menyajikan infromasi
  • hyperlink
Karena sifatnya yang on line, maka bahan ajar berbasis web mempunyai karakteristik khusus sesuai dengan karakteristik web itu sendiri. Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah adanya fasilitas hyperlink. Hyperlink memungkinkan sesuatu subjek nge-link ke subjek lain tanpa ada batasan fisik dan geografis, selama subjek yang bersangkutan tersedia pada web.

Unsur-unsur bahan ajar
Bahan ajar setidak tidaknya harus memiliki enam unsur, yaitu mencakup tujuan, sasaran, uraian materi, sistematika sajian, petunjuk belajar, dan evaluasi. Sebuah bahan ajar harus mempunyai tujuan. Tujuan harus dirumuskan secara jelas dan terukur mencakup kriteria ABCD (audience, behavior, criterion, dan degree). Sasaran perlu dirumuskan secara spesifik, untuk siapa bahan relajar itu ditujukan. Sasaran bukan sekedar mengandung pernyataan subjek orang, Namun juga harus mencakup kemampuan apa yang menjadi prasyarat yang harus sudah mereka kuasai agar dapat memahami bahan ajar ini.
Langkah-langkah pengembangan
Secara makro, pengembangan bahan ajar mencakup langkah-langkah analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Secara mikro, langkah-langkah pengembangan bahan ajar berbasis web dimulai dari penentuan sasaran, pemilihan topik, pembuatan peta materi, perumusan tujuan, penyusunan alat evaluasi, pengumpulan referensi, penyusunan bahan, editing, upload, dan testing.
  1. Penentuan sasaran
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyusun sebuah bahan ajar adalah menentukan secara jelas siapa sasaran bahan ajar tersebut. Di dalam kelas konvensional, sasaran telah sangat terstruktur, misalnya siswa kelas dua SMA semester pertama. Pernyataan tersebut telah mengandung indikasi yang jelas tentang siapa mereka, kemampuan apa yang harus mereka kuasai, serta di mana kedudukan bahan belajar yang akan disajikan dalam keseluruhan kurikulum sekolah. Demikian pula pada penyusunan bahan belajar berbasis web sasaran harus dicantumkan secara spesifik.
  1. Pemilihan topik
Setelah sasaran ditentukan, langkah selanjutnya adalah memilih topik yang sesuai dengan kebutuhan sasaran tersebut. Pemilihan topik dapat dilakukan dengan pertimbangan, antara lain; materi sulit, penting diketahui, bermanfaat, merupakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum banyak diketahui, atau bahasan dari sudut pandang lain, dll.
  1. Pembuatan peta materi
Peta materi sangat membantu dalam merumuskan keluasan dan kedalaman materi yang akan dibahas. Membuat peta materi dapat diibaratkan menggambar sebuah batang pohon yang bercabang dan beranting, semakin banyak cabang maka semakin luas bahasan materi. Sedangkan apabila kita menghendaki bahasan yang fokus dan spesifik, maka kembangkanlah bagian ranting-ranting.
  1. Perumusan tujuan
Gambar peta materi akan sangat bermanfaat untuk menentukan tujuan. Setiap ranting dapat dirumuskan menjadi sebuah indikator tujuan yang spesifik. Sedangkan cabang menjadi besaran tujuan tersebut. Tujuan besar (cabang) dapat dicapai dengan memenuhi semua tujuan yang spesifik (ranting).
  1. Penyusunan alat evaluasi
Setelah merumuskan tujuan, langsung diikuti dengan perumusan alat evaluasi. Alat evaluasi dimaksudkan untuk mejawab dengan cara bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu tujuan itu telah tercapai. Setiap indikator tujuan harus dapat diukur keberhasilannya. Sebuah rumusan tujuan dapat diukur dengan satu butir alat evaluasi. Dapat satu set alat evaluasi mengukur serangkai tujuan.
  1. Pengumpulan referensi
Tidak ada bahan ajar yang berdiri sendiri tanpa sumber referensi. Referensi digunakan untuk memberi dukungan teoretis, data, fakta, ataupun pendapat. Referensi juga dapat memperkaya khasanah bahan belajar, sehingga pembaca yang menginginkan pendalaman materi yang dibahas dapat mencari dari sumber yang disebutkan. Dalam web, pembaca dapat dengan mudah diberikan link ke sumber referensi tersebut.
  1. Penyusunan bahan
Setelah bahan-bahan pendukung siap, maka penulisan dapat dimulai. Penulisan bahan hendaklah konsisten dengan peta materi dan tujuan yang telah disusun. Secara umum struktur penulisan sekurang-kurangnya terdiri dari tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan penutupan. Pada pendahuluan kita harus sudah menyampaikan secara ringkas apa yang akan dibahas pada bahan belajar ini. Sedangkan bagian isi menguraikan secara gamblang seluruh materi. Agar lebih jelas, uraian bisa dilengkapi dengan contoh-contoh. Untuk mengecek pemahaman, pada bagian ini dapat pula diberikan latihan-latihan. Pada bagaian penutup sampaikan kembali secara ringkas apa yang telah dibahas. Proses selanjutnya adalah editing, upload, dan testing.
  1. Pelaksanaan Pembelajaran
Pada pelaksanaannya, pembelajaran berbasis web disesuaikan dengan metode yang ingin digunakan. Pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam kelas atau pun diluar kelas. Misalnya pada saat praktikum atau pada saat diskusi kelas sampai pada ulangan harian.

  1. Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web
Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran untuk web based learning dirancang sedemikian rupa agar proses pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik (Ron Oliver: 2001).
Sukartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web. Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut (Walter Dick, dkk, 2005: 197). Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi pembelajaran.
Pembelajaran berbasis web adalah proses pembelajaran yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning.  Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW) (Oos M. Anwas: 2003).
Konvensi internasional, menyatakan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan berbagai proses dan aplikasi elektronik untuk pembelajaran, termasuk di dalamnya adalah CBT, WBI, CD, dan lain-lain. Sedangkan pembelajaran berbasis web diartikan sebagai pembelajaran melalui internet, intranet, dan halaman web saja. Namun demikian istilah e-learning dan online learning sering disamakan dengan pembelajaran berbasis web (Davidson & Rasmusen, 2006: 10).
Piskurich (2003: 2) mendefinisikan e-learning sebagai: “…the use of the computer network or the web for delivery of the learning”. Sedangkan Conrad & TrainingLinks (2000: 11), menyebutkan E-learning dengan istilah Web-based Training karena lebih berorientasi pada fungsi pelatihan. WBT adalah sebuah pratik pembelajaran yang terintegrasi melalui internet sehingga pembelajar dapat secara langsung mengakses kompetensi apa yang secara khusus akan dipelajari sesuai dengan level belajarnya.
Jaya Kumar C. Koran, mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya (Oos M. Anwas: 2003).
Berdasarkan beberapa keterangan tersebut di atas dapat diperoleh konsep pembelajaran berbasis web (web based learning) atau E-learning, yaitu suatu pembelajaran elektronik berbasis TIK yang dituangkan dalam format digital dengan prinsip dan metode tertentu sehingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran open sources yang interaktif sehingga memungkinkan siswa belajar secara individual atau kolaboratif baik melalui aplikasi internet atau intranet.
Perkembangan teknologi informasi yang pesat berhasil merevolusi internet khususnya web, dari desain web yang sederhana dan menggandalkan halaman statis dengan HTML hingga menjadi sebuah teknik pengembangan website yang mutakhir. Karena terlalu cepatnya perubahan yang terjadi, tidak semua orang dapat mengikuti perkembangan yang terjadi. Salah satu perkembangan teknologi rancang bangun dari website yang cukup menarik untuk diikuti adalah munculnya model-model web portal yang menawan dan mampu memberikan fungsionalitas yang tinggi bagi penggunanya, selain mudah digunakan bahkan gratis untuk memperolehnya (Dwi Sumarwanto. 2005: 54).
Secara umum sistem aplikasi di internet terbagi menjadi dua jenis, yaitu synchronous system dan asynchronous system. (Davidson & Rasmusen, 2006: 10). Synchronous system merupakan aplikasi yang berjalan secara waktu nyata dimana seluruh pemakai dapat berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya: chatting, dan video conference. Sedangkan asynchronous system adalah aplikasi yang tidak tergantung pada waktu tertentu, dimana seluruh pemakai dapat mengakses ke system dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: millis dan e-mail.
Seiring dengan kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, maka dunia pendidikan juga telah banyak yang memanfaatkan web sebagai media pembelajaran. Meskipun banyak penelitian menunjukan bahwa efektifitas pembelajaran menggunakan internet (e-learning) cenderung sama bila dibanding dengan pembelajaran konvensional atau klasikal, tetapi keuntungan yang bisa diperoleh adalah dalam hal fleksibilitasnya (Herman Dwi Surjono, 2008: 1).
Melalui media pembelajaran berbasis web materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, di samping itu materi juga dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar termasuk multimedia. Media pembelajaran berbasis web dapat dikembangkan dari yang sangat sederhana sampai yang kompleks. Sebagian media pembelajarn berbasis web hanya dibangun untuk menampilkan kumpulan materi, sementara forum diskusi atau tanya jawab dilakukan melalui e-mail atau milist. Implementasi dengan cara tersebut terhitung sebagai media pembelajaran berbasis web yang paling sederhana. Disamping itu ada juga media pembelajaran berbasis web yang terpadu, berupa portal e-learning yang berisi berbagai obyek pembelajaran yang diperkaya dengan multimedia serta dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai educatioanal tools lainnya (Herman Dwi Surjono, 2008: 1).
Mengembangkan pembelajaran berbasis web yang efektif, memerlukan penerapan suatu pendekatan system dan prinsip-prinsip desain pembelajaran. Pendekatan system memberikan suatu kerangka kerja atau panduan pada kita sebagai seorang pengembang untuk mendesain materi pembelajaran. Guna mendapatkan desain pembelajaran efektif, pengembang harus berpegang pada prinsip-prinsip desain pembelajaran, sehingga materi pembelajaran yang dikembangkan memang berorientasi kepada siswa atau peserta didik dan akan meningkatkan efektivitas materi yang disajikan.
Bagi para pengajar, internet bermanfaat dalam mengembangkan profesinya, karena dengan internet dapat: (a) meningkatkan pengetahuan, (b) berbagi sumber diantara rekan sejawat, (c) bekerjasama dengan pengajar di luar negeri, (d) kesempatan mempublikasikan informasi secara langsung, (e) mengatur komunikasi secara teratur, dan (f) berpartisipasi dalam forum-forum lokal maupun internasional (Rechdalle: 2005). Para pengajar juga dapat memanfaatkan internet sebagai sumber bahan mengajar dengan mengakses rencana pembelajaran atau silabus online dengan metodologi baru, mengakses materi pelajaran yang cocok untuk siswanya, serta dapat menyampaikan ide-idenya. Sedangkan peserta didik juga dapat menggunakan internet untuk belajar sendiri secara cepat, sehingga akan meningkatkan dan memperluas pengetahuan, belajar berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan dalam bidang penelitian.
Menurut Boulton &Trent (2008),  penggunaan e-learning di tingkat pendidikan menengah dengan siswa usia 14-16 , dapat memberikan dukungan yang lebih baik untuk siswa yang kemampuannya kurang, meningkatkan respon keterlibatan siswa pada proses pembelajaran, memberikan kesempatan percepatan (akselerasi) belajar bagi siswa yang cerdas dan berbakat , dan mengembangkan kemampuan belajar siswa secara mandiri melalui pengalaman belajar individual.
 Web pada dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses karena adanya jaringan yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu pembelajaran berbasis web bisa dilaksanakan karena adanya jaringan internet, dan sering disebut dengan nama on-line course. Herman Dwi Surjono & Maltby (2003) memberi penegasan bahwa World Wide Web atau sering disebut web menjadi lingkungan yang kuat untuk mendistribusikan informasi dan banyak lembaga pendidikan yang menggunakannya untuk mengirim ilmu pengetahuan kepada stakeholders.
Pendapat tersebut mendukung O’Brien & Ruth Sharratt (2002) yang menganggap inovasi teknologi informasi dan komunikasi mengubah aturan akademik dalam mengkreasi dan mengirim sumber-sumber pembelajaran. Secara umum website memiliki beberapa fungsi, yaitu: fungsi komunikasi, fungsi informasi, fungsi hiburan, dan fungsi transaksi (Asep Herman Suyanto, 2006: 5).
Berbagai fungsi yang dimiliki oleh website menyebabkan fleksibilitas pengembangannya untuk berbagai kepentingan terutama untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW) (Oos M. Anwas: 2003).
Tentang pengembangan E-learning, Davidson dan Karel L. Rasmusesen (2006: 24) dan Haughey (1998) dalam Asep HS. (2009: 10) berpendapat bahwa ada tiga kemungkinan dalam pengembangan system pembeljaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enchanced course.
1)   Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
2)   Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut.
3)   Web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.

 

Fotografi




1.      Alasan mengapa seorang calon guru wajib mempelajari fotografi
Alasan : karena belajar fotografi merupakan dasar dari media gambar yang kita ajarkan kepada peserta didik nanti,jadi kita sebagai seorang calon guru mengetahui bagaimana proses pengambilan gambar yang akan kita berikan kepada peserta didik sebagai media.
Seperti yang kita ketehui,zaman akan terus berputar,dengan maju nya teknologi yang canggih,kita bisa memperkenalkan kamera kepada mereka.
Kemudian ilmu Fotografi yang kita punya ,dapat kita realisasikan dalam pembelajaran,mungkin kita dapat mengambil suatu objek/gambar yang dapat menunjang imajinasi peserta didik untuk berkembang,karena pendidikan melalui visual lebih cepat ditangkap oleh anak didik.

2.      Pengertian Fotografi
Fotografi Menurut Amir Hamzah Sulaeman mengatakan bahwa fotografi berasal dari kata foto dan grafi yang masing-masing kata tersebut mempunyaai arti sebagai berikut  : Foto artinya cahaya dan grafi artinya menulis, jadi arti fotografi secara keseluruhan adalah menulis dengan bantuan cahaya, atau lebih dikenal dengan menggambar dengan bantuan cahaya atau merekam gambar melalui media kamera dengan bantuan cahaya ( 1981;94)

Menurut Saya : fotografi adalah proses atau cara untuk menghasilkan gambar atau suatu objek melalui media kamera dengan bantuan pantulan cahaya,sehingga akan menghasilkan gambar-gambar yang indah yang merupakan sebuah seni luas yang mencakup potret,lanskap atau fotografi glamor.

3.      Komponen Kamera
Pada dasarnya setiap camera video terdiri dari 3 bagian,yaitu:
1.Lensa
2.Body
3.VTR/recorder

1.      Lensa
Lensa mempunyai fungsi menangkap obyek secara optik yang menghasilkan gambar dan di teruskan ke permukaan tabung kamera(natinya oleh tabung camera di ubah lagi dari optik ke elektrik).
Jenis lensa di bedakan menurut panjang focalnya (jarak antara pusat optik lensa dengan titik di mana gambar terlihat dalam keadaan focus)
2.      Body Camera
Body camera ini berisi tabung pengambil gambar (pick up tube) yang berfungsi untuk merubah gambar optik yang di hasilkan lensa menjadi sinyal elektrik.
Di body camera ini biasanya juga di lengkapi dgn beberapa fasilitas camera seperti: white balance,shuuter speed,digital efek dll tergantung jenis camera dan kebutuhannya
3.      VTR recorder
Vtr berfungsi sebagai alat perekam gambar dan suara
Di beberapa camera ada yg recordernya terpisah namun ada juga yang menyatu dgn body camera,kelebihan jika recordernya jadi satu adalah keringanan dan efesiensi waktu.

Komponen pendukung lainnya :
1.      Exposure
Eksposure secara sederhana dapat saya artikan sebagai pencahayaan kamera. Untuk mendapatkan gambar yang normal, tidak gelap (under exposure) dan tidak sangat terang (over exposure) harus diperhatikan:

·         Aperture ( Diafragma)
mengatur banyaknya sinar yang masuk ke lensa kamera
·         (ND Filter)
Filter ND (Neutral Density) berfungsi untuk mengurangi intensitas sinar yang terlalu kuat tanpa mempengaruhi kualitas warna cahaya
·         (Gain)
Gain berfungsi apabila pengambilan gambar dalam keadaan kurang cahaya, yang apabila dengan keadaan normal dengan bukaan f-stop maksimal (f/1.4) masih under exposure
2.      Filter Colour
Berfungsi untuk mengubah atau mencocokkan cahaya yang masuk ke dalam kamera
3.      White Balance
White balance merupakan sebuah fungsi yang ada dalam sebuah kamera untuk menentukan warna dari obyek yang diambil adalah warna natural atau warna yang sebenarnya dengan memberikan referensi warna putih yang sesungguhnya
4.      Zoom
Zooming adalah gerakan lensa zoom mendekati atau menjauhi objek secara optik, dengan mengubah panjang fokal lensa dari sudut pandang sempit (telephoto) ke sudut lebar (wide angle).
5.      Focus
Focus adalah pengaturan lensa yang tepat untuk jarak tertentu
6.      Audio Levels
audio level pada kamera sagat penting, karena selain kualitas gambar, kualitas audio juga tidak kalah pentingnya
7.      Rana / Kecepatan (Suter Speed)
tirai pada kamera yang menutupi permukaan atau sensor foto.
8.      ISO / ASA
9.      tuas pengokang film (film advance lever), untuk menyiapkan kamera pada posisi siap bidik, sekaligus memajukan film ke bingkai selanjutnya.
10.  tuas bidikan ganda (multiple exposure lever), untuk memasang kamera pada posisi siap bidik tanpa memajukan film ke bingkai selanjutnya. Alat ini digunakan untuk melakukan  pemotretan pada binkai yang sama lebih dari satu kali. Umumnya alat ini dipakai bersamaan dengan pengokangan film.
11.  gelang kecepatan rana (shutter speed ring), gelang penunjuk kecepatan. Jika gelang kecepatan menunjukkan angka 60, artinya kecepatan tirai rana untuk meloloskan cahaya adalah 1/60 detik.
12.  gelang kecepatan film, ASA/iso (film speed ring), gelang penunjuk angka iso film.
13.  sepatu lampu kilat (hot shoe contact), tempat untuk memasang lampu kilat pada kamera.
14.  terminal sinkronisasi lampu kilat (sync cord terminal), soket untuk memasasng lampu tambahan yang dihubungkan dengan lampu kilat.
15.  gelang kompensasi pencahayaan (exposure compensation ring), untuk mengatur jumlah pencahayaan yang lebih banyak atau sedikit dari jumlah yang ditunjukkan oleh gelang kecepatan.
16.  tuas penggulung balik (film rewind crank), untuk menggulung film kembali ke selongsongnya.kunci pelepas lensa (lens release button), tombol untuk memasang atau melepaskan lensa
17.  tuas penontrol ruang tajam (depth-of-fild preview lever), untuk mengetahui ruang tajam yang dapat direkam oleh kamera.
18.  penangguh waktu (self timer), tuas yang digunakan jika pemotret ingin ikut berpose.
19.  tombol pelepas rana (shutter release button), untuk menjepretkan kamera (memotret).
20.  jendela penghitung (frame counter), untuk melihat jumlah bingkai film yang sudah terpakai.
21.  gelang focus (focusing ring), untuk mengatur focus.
22.  gelang diafragma (aperture ring), untuk mengatur pemilihan bukaan diafragma.

4.      Manfaat media fotografi untuk pembelajaran
Gambar/Foto adalah media yang  paling murah di pakai.Dia merupakan bahasa umum yang dapat di mengerti dan di nikmati dimana-mana.
Fungsinya dalam Pembelajaran :
1.      Mengembangkan kemampuan visual
2.      Mengembangkan imanijasi anak
3.      Membantu meningkatkan kemampuan anak terhadap hal-hal yang abstrak atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan di dalam kelas
4.      Memberikan tampilan yang sifatnya konkrit
5.      Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.
6.      Gambar atau foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita
7.      Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja
8.      Murah harganya dan mudah didapat serta digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus.

5.      Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sebuah gambar dengan benar.

1.      Fokus dengan benar
Dalam pencahayaan baik,  hampir selalu dapat mengandalkan autofocus. Untuk hasil yang maksimal, jangan percayakan pada kamera untuk memilih titik fokus. Gunakan titik fokus tunggal, fokuskan kamera pada objek yang diinginkan dengan menekan shutter setengah jalan, kemudian ubah komposisi. Jangan lupa, untuk mendapatkan ruang tajam terlebar gunakan focal length wide dan aperture terkecil.
2.      Gunakan tripod
Kamera tidak boleh shake jika ingin mendapatkan ketajaman maksimal. Untuk mencegah shake, tripod adalah solusi teraman. Dengan tripod dapat menggunakan ISO terendah. Jika langkah ini dirasa masih kurang, matikan sharpening di dalam kamera dan sebagai gantinya gunakan Unsharp Mask di Photoshop yang memberikan hasil lebih baik.
3.      Matikan image stabilizer
Jika menggunakan tripod, image stabilizer kamera harus dimatikan. Image stabilizer dirancang untuk meredam goncangan tangan pengguna. Jika kamera stabil, sistem ini justru dapat “bertingkah” membuat gambar blur. Kamera dengan system image stabilizer digital bahkan lebih parah lagi. Kamera tipe ini tidak akan memotret dalam resolusi maksimal dalam kondisi apapun jika image stabilizer aktif.
4.      Mode “P”, jangan mode auto
Uniknya hasil yang lebih baik, ada baiknya menggunakan mode P kamera, dan bukan mode otomatis. Dalam mode P, biasanya masih diperkenankan untuk mengubah parameter penting seperti ISO, white balance, atau EV adjustment. Mode ini tersedia di kebanyakan tipe.
5.      Matikan Flash
Menonaktifkan flash seringkali banyak membantu. Kamera akan secara menangkap warna yang lebih natural dibandingkan dengan cahaya putih flash.
6.      Koreksi dengan Photoshop
Dengan tool “levels” di Photoshop, hanya memerlukan beberapa klik untuk memperindah warna. Dengan tool “Curves” bahkan dapat melakukan adjustment yang lebih detil.
7.      Overexposure mengurangi noise
Noise paling kuat pada area gelap sehingga jika bayangan mendominasi foto, kemungkinan noise juga mendominasinya. Jika memotret dengan sedikit overexposure, maka area shadow akan menjadi lebih terang dan menunjukkan lebih sedikit noise.
8.      Gunakan timer
Getaran masih dapat merusak gambar, bahkan saat memotret dengan tripod. Untuk menghindari goncangan saat menekan tombol shutter, gunakan fungsi timer yang terdapat pada setiap kamera. Banyak kamera terkini menyediakan jeda 2 detik yang memang dirancang untuk kegunaan ini.


6.      Sebuah objek yang akan diambil dalam keadaan bergerak kira-kira  40 km/jam dalam keadaan cuaca cerah :
a.       Speed yang di pakai
40km/jam maka kita dapat gunakan 1/50 agar objek bergerak terekam dengan jelas.
dimana kita akan mengambil fokus terhadap benda bergerak sehingga moment/gambar dapat terekam
b.      Diafragma yang tepat
Diafragma yang gunakan adalah diafragma yang angkanya besar,diafragma 22 karena semakin besar angka diafragma yang digunakan ,maka semakin kecil cahaya yang di tangkap,karena objek yan di foto dalam keadaan cahaya terang.

c.       Fokus
Focal  lenght , Semakin panjang focal length, semakin sempit ruang tajamnya.
d.      Menggunakan Teknik Paning
Teknik paning adalah teknik dimana kita akan mengambil fokus terhadap benda bergerak sehingga moment/gambar dapat terekam. Pada teknik ini untuk memberikan kesan blur pada objek, sehingga objek akan tampak hidup.
Teknik ini biasanya dengan menggunakan seting Shutter Speed priority. Hal ini supaya Aperture dapat menyesuaikan sendiri. Sehingga dihasilkan gambar normal yang tidak underexposure maupun overexposure. Untuk orang berlari kita dapat ambil 1/15, sedangkan untuk sepeda motor/ mobil kita sesuaikan dengan kecepatan benda tersebut. Untuk motor/mobil yang berlaju agak pelan kita bisa gunakan 1/30, sedangkan untuk kendaraan yang lebih laju bisa gunakan1/50. Rumusan ini tidak baku,hanya sebagai gambarannya. Supaya tidak blur maka kita harus tau kurang lebih kecepatan kendaraan tersebut sehingga kita dapat menseting shuter speednya. Semisal kendaraan lari 40km/jam maka kita dapat gunakan 1/50 agar objek bergerak terekam dengan jelas.

7.      Angka untuk ASA/ISO yang umum digunakan adalah 25, 50, 100, 200, 400 dan seterusnya yang merupakan kelipatan dari angka sebelumnya. Semakin besar angka ASA/ISO maka semakin peka terhadap cahaya dan memiliki butiran yang semakin kasar. Pada kamera digital, data ISO bisa lebih banyak variasi.
ISO / ASA merupakan tingkat kepekatan terhadap cahaya, semakin tinggi iso semakin tinggi tingkat sensifitasnya. Iso rendah memiliki tingkat noise yang rendah sekali. Iso rendah biasanya digunakan pada siang hari. Iso tinggi memiliki tingkat noise yang tinggi pula. Biasanya digunakan pada malam hari.
Iso berupa kelipatan dua kalinya. Misal ISO 100, ISO 200, ISO 400, ISO 800,ISO 1600,dst
ISO 100  dikatakan iso rendah sedangkan 1600 dikatakan iso tinggi.
Penggunaan ASA/ISO dengan angka yang besar memungkinkan pemotretan dengan hanya sedikit cahaya seperti dalam ruangan, sore hari/mendung tetapi mempunyai efek hasil gambar yang kasar terutama dalam pencetakan gambar yang besar. Sedangkan ASA/ISO yang kecil membutuhkan banyak cahaya tetapi menghasilkan gambar yang halus dalam pembesarannya.

a.   Film Negatif
Sesuai dengan namanya, film ini akan menampilkan hasil yang negatif setelah di proses. Pengertian negatif disini adalah warna apa yang di tampilkan film tersebut adalah terbalik dari warna aslinya. Warna hitam akan kelihatan putih, putih akan kelihatan hitam. Merah akan kelihatan hijau, kuning jadi ungu, dan sebagainya. Setelah di cetak, barulah terjadi pembalikan warna, kita akan melihat kembali warna aslinya, sebagaimana apa yang kita lihat di subyek aslinya.
b.   Film Positif
Film positif adalah kebalikannya dari film negatif. Film ini akan memperagakan hasil fotonya sebagaimana adanya. Hitam akan terlihat hitam, putih akan terlihat putih, dan merah ya, merah. Seperti film yang diputar di bioskop, film tersebut dicetak diatas film positif
c.   Film Panchromatic atau film Hitam Putih
Mengenai film negatif Panchromatic atau hitam putih, kita tidak akan membicarakannya terlalu jauh. Sebab pemakaian film ini bagi kita tidak begitu sering. Kecuali bagi wartawan foto atau untuk keperluan khusus. Tapi satu hal yang tak dapat dipungkiri dari hasil pencetakan foto hitam putih ini adalah daya tahannya yang cukup lama, tanpa perobahan warna pada foto tersebut, asal dalam pencetakannya cukup baik dan “matang

Kamis, 13 Juni 2013

Si asin dari mata


Dentuman si asin menghantam di pipi
Bukan ingin nya menodai garis-garis di wajah
Dia jatuh murni dari hati
hanya saja dia megalir dari mata
Bukan lemah yang ingin dia katakan
Tapi ia mewakili rasa yang tak ditemukan sajak-sajak di bibir untuk mengungkapnya
Dia bermain di pipi, kadang dia melukis senyum, kadang menyendukan mata dengan kegundahan
Entahlah
Tapi yang jelas dia murni dari hati
Fitria Nowelis

HAKIKAT PROFESI KEPENDIDIKAN

HAKIKAT PROFESI KEPENDIDIKAN 1.     HAKIKAT PROFESI Profesi melibatkan beberapa istilah yang berkaitan, yaitu : profesi, profesiona...